Sejarah Desa

Terjadinya Desa Kuwaron
Dengan adanya kerja paksa yang dilakukan Belanda, banyak Kepala Desa dan perangkatnya yang pergi meninggalkan desa. Hal tersebut seperti Mbah Dermo, yang berasal dari daerah Pegandon Kendal. Karena takut tekanan pihak Belanda, terpaksa pergi untuk menyelamatkan diri. Diajaknya keluarga dan beberapa pengikutnya pergi ke hutan. agar tidak tertangkap patroli Belanda, Selain itu rombongan juga menghindari perkampungan yang dijumpai di tengah perjalanan, karena takut dilaporkan kepada patroli Belanda. Dapat dibayangkan bila tertangkap patroli Belanda, dipastikan hukuman berat akan diterimanya. Perlu diketahui bahwa waktu itu, banyak bangsa sendiri menjadi penjilat penjajah Belanda.
Karena kecurigaannya terhadap orang lain, sehingga selama pelarian tidak pernah mengenal nasi. Mereka hanya makan buah-buahan hutan, atau ketela pohon dan umbi-umbian yang ditemukan di tengah jalan. Hawa dingin dan gigitan nyamuk menjadi musuh utama, waktu malam hari di tengah hutan. Belum lagi adanya hujan lebat, waktu mereka sedang tidur. Dapat dibayangkan betapa berat perjalanan mereka, hanya untuk mencari keselamatan hidup.
Pada suatu hari rombongan itu berhasil menemukan balai besar, yang ada di dalam hutan. Setelah melihat situasi yang aman, mereka membersihkannya untuk dijadikan tempat istirahat. Karena ada diantara mereka jatuh sakit, berhari-hari rombongan berada di tempat itu. Ketika dirasakan daerah itu benar-benar aman, Mbah Dermo memutuskan untuk rombongan tinggal di daerah itu. Mereka kemudian bergotong-royong, membuat gubug-gubug di sekitar balai itu. Juga membuka hutan, untuk dijadikan ladang dan tanah persawahan. Berhari-hari usaha keras dilakukan, yang akhirnya dapat terlihat juga hasilnya. Tanah yang dijadikan sawah sudah siap untuk ditanami padi, dan ladang yang ditanami ketela pohon juga sudah mulai bersemi. Tetapi selama mereka di tempat itu, hubungan dengan masyarakat luar masih dibatasi. Mereka masih khawatir, karena takut pelariannya diketahui patroli Belanda. Rupa-rupanya kekejaman kompeni Belanda terhadap para pekerja paksa, masih menghantui diri mereka semua.
Pada suatu hari, pedukuhan itu kedatangan rombongan lain yang dipimpin Mbah Lebai. Konon rombongan itu berasal dari daerah Indramayu, yang melarikan diri karena takut dijadikan pekerja paksa. Mbah Lebai sebagai pemimpin rombongan meminta izin Mbah Dermo, untuk dapat beristirahat di pedukuhan itu. Dengan senang hati Mbah Dermo mengizinkan, karena terhadap nasib mereka yang sama.
Melihat situasi pedukuhan yang aman dari jangkauan patroli Belanda, Mbah Lebai mempunyai niat ikut bertempat tinggal di pedukuhan itu. Mendengar permintaan, dengan senang hati Mbah Dermo menerimanya. Rombongan Mbah Lebai segera mendirikan gubug-gubug, untuk dijadikan tempat tinggal. Selain itu juga membuka hutan baru di dekatnya, untuk dijadikan ladang dan tanah persawahan, Dengan berdirinya beberapa buah gubug lagi di tempat itu, daerah hutan yang semula sepi berubah menjadi dukuh yang ramai. Kedua rombongan hidup rukun, serta saling membantu menghadapi kesulitan yang ditemukan.
Konon setelah pekerjaan pembuatan jalan raya Anyer-Panarukan selesai dikerjakan, barulah penduduk pedukuhan berani membuka hubungan dengan masyarakat luar. Mereka berani menjual hasil pertanian kepada penduduk di pedukuhan lain, serta membeli barang kebutuhan sehari-hari. Walau situasi sudah aman, tidak ada niat mereka untuk kembali ke daerahnya.
Walau di pedukuhan baru untuk kedua rombongan hidup rukun, tetapi mereka belum juga mempunyai pemimpin. Maka dari adanya musyawarah warga, Mbah Dermo terpilih menjadi pemimpin dan Mbah Lebai sebagai wakilnya.
Karena semua penduduk hidup bercocok tanam, jelas membutuhkan alat-alat pertanian untuk mengolah tanah. Ada beberapa orang mencoba membuat alat pertanian, dengan mendirikan bengkel pandai besi. Karena adanya beberapa bengkel alat pertanian, semakin ramailah suasana di pedukuhan pada siang hari. Hampir setiap saat terdengar suara palu beradu dengan landasan, menempa besi membara untuk dibuat alat pertanian sabit dan cangkul. Ternyata alat pertanian juga dibutuhkan penduduk pedukuhan lain, sehingga mereka banyak yang datang ke pedukuhan baru untuk membelinya.
Sudah beberapa tahun mereka tinggal di pedukuhan itu, ternyata dukuh itu belum juga diberi. nam. Darlam musyawarah banyak sekali usulan diajukan, untuk pemberian nama pedukuhan baru itu. Ada yang mengajukan nama seperti pedukuhan di daerah Kendal, ada pula yang mengajukan nama seperti pedukuhan daerah Indramayu. Pertentangan memberi nama dukuh ternyata cukup alot, karena masing-masing rombongan ingin menonjolkan nama seperti di daerahnya. Mbah Dermo sebagai kepala dukuh mengambil keputusan, bahwa pedukuhan itu diberi nama ”Kuwaron”.
Konon nama Kuwaron diambil dari bahasa Arab “Kurun“, yang artinya ububan (alat peniupan bara api pada bengkel pandai besi). Dari asal kurun akhirnya berubah menjadi kwaron, dan kemudian menjadi Kuwaron. Tetapi ada cerita, bahwa nama Kuwaron diambil dari kata di dalam kitab Al Quran ”kuwariro” yang artinya koco brenggolo (bhs. Jawa). Jadi kuwariro atau kaca brenggolo artinya tempat atau daerah, yang dapat dijadikan suri tauladan. Mana yang benar untuk pemberian nama dukuh itu, wa llahu a’lam bish shawab.
Kedamaian di pedukuhan Kuwaron itu, semakin lama menjadi pudar juga. Hal tersebut dimulai dari adanya warga yang berani menentang, semua hasil musyawarah bersama. Penetangan-penentangnya ternyata dari rombongan asal Indramayu, yang masih menghendaki Mbah Lebai sebagai pemimpin pedukuhan. Walau Mbah Dermo beserta Mbah Lebai sudah berusaha menyadarkan, tetapi dua kelompok itu sulit menerimanya. Karena itu hampir setiap hari, selalu ada percekcokan antar warga yang disebabkan permasalahan kecil saja.
Terjadinya Desa Jatipecaron
Melihat percekcokan yang sering terjadi di pedukuhan Kuwaron, menyebabkan Mbah Lebai tidak betah tinggal di pedukuhan itu. Pada suatu hari beliau mengutarakan maksudnya kepada Mbah Dermo, bahwa akan pergi mencari tempat tinggal baru. Tentu saja Mbah Dermo keberatan, karena Mbah Lebai sudah dianggap seperti adik sendiri. Dibujuknya juga para pengikutnya, untuk tidak meninggalkan pedukuhan Kuwaron. Tetapi niat Mbah Lebai sudah bulat. Dengan disertai sanak famili dan pengikutnya, beliau pergi meninggalkan pedukuhan Kuwaron. Rombongan berjalan ke utara, untuk mencari tempat yang cocok untuk tempat tinggal. Namun ketika rombongan sampai di pinggir sungai Tuntang, ternyata sungai sedang banjir besar Rombongan tidak berani menyeberang, dan berhenti di pinggir sungai menunggu banjir surut. Seharian rombongan di pinggir sungai, tetapi banjir tidak juga surut. Kemudian mereka mencari tempat agak tinggi, untuk mendirikan gubug tempat beristirahat. Walau berhari-hari menunggu banjir surut, tetapi tidak juga kunjung tiba. Mbah Lebai kemudian mengambil keputusan, untuk mendirikan pedukuhan baru di pinggir sungai.
Konon setelah Mbah Lebai dan rombongan pergi, hati Mbah Dermo sangat sedih sekali. Apalagi melihat warganya sulit diatur, menyebabkan Mbah Dermo menjadi putus asa. Pada suatu hari beliau mempunyai niat, akan menyusul Mbah Lebai di pedukuhan baru. Dengan diiringi sanak keluarga, pergilah Mbah Dermo meninggalkan pedukuhan Kuwaron. Setelah tiba di pedukuhan baru, diutarakan maksud kedatangannya itu. Dikatakan pula bahwa dirinya tidak mampu menjadi pemimpin pedukuhan Kuwaron, karena penduduknya sulit diatur. Tentu saja Mbah Lebai terkejut mendengar permintaan Mbah Dermo, karena pedukuhan yang dulu pernah dipimpinnya berdua harus ditinggalkan. Beliau juga prihatin terhadap pedukuhan Kuwaron, karena tidak ada pemimpinnya. Dengan halus beliau menolak permintaan itu dengan ucapan : ”Balio maneh menyang dukuh Kuwaron, podo wae wong dukuh iki sejatine uga pecahane dukuh Kuwaron”. (Kembalilah ke pedukuhan Kuwaron, sama saja desa ini sebenarnya adalah pecahan pedukuhan Kuwaron).
Tetapi Mbah Dermo sudah bertekad, tidak akan kembali ke dukuh Kuwaron. Beliau akan mencari tempat baru, bila tidak diizinkan tinggal di pedukuhan itu. Karena merasa kasihan, beliau berkata : ”Yo wis yen pancen koyo ngono karepmu, kowe manggono ono sisih kidul dene aku tak manggon ana sisih lor” (Ya sudah kalau memang seperti itu kehendakmu, kamu tinggal di sebelah selatan sedang saya tinggal di sebelah utara).
Akhirnya Mbah Dermo dan sanak keluarga menetap di pedukuhan itu, dan tinggal di sebelah selatan atau tepatnya di dekat sungai Tuntang. Sedangkan Mbah Lebai tetap di tempat semula, di daerah yang terletak di sebelah Utara. Setelah Mbah Lebai berkata bahwa pedukuhan baru itu sebenarnya pecahan Kuwaron, maka pedukuhan itu kemudian diberi nama ”Jatipecaron”. Konon nama itu sebenarnya kependekan dari kata ”Sejatine Pecahane Kuwaron”.
Hingga akhir hayatnya kedua tokoh itu tinggal di pedukuhan Jatipecaron. Setelah keduanya wafat, jenazah Mbah Lebai dimakamkan di pekuburan Kauman sedangkan Mbah Dermo dimakamkan di pekuburan dekat tanggul sungai Tuntang.
Makam Mbah Dermo sering kebanjiran, sehingga kayu nisannya lapuk dan hilang terbawa banjir. Karena dikenal sebagai makam wingit, tidak ada yang berani mengganti kayu nisan beliau. Tetapi karena makam beliau berada di bawah pohon preh, dengan hilangnya kayu nisan maka pohon preh itu dianggap pengganti nisan beliau.
Untuk menghormati Mbah Dermo sebagai tokoh yang berjasa mendirikan dan memimpin dukuh Kuwaron dulu, pada setiap bulan Apit perangkat desa Kuwaron datang berziarah ke makam beliau di dukuh Polaman desa Jatipecaron. Di tempat itu mereka mengadakan selamatan, minta kepada Allah SWT agar desa Kuwaron dan penduduknya diberi keselamatan.
Membahas tentang Mbah Lebai, yang dimakamkan di desa Jatipecaron. Bila menyebut nama Lebai, akan muncul pertanyaan tentang siapakah nama asli beliau. Hingga sekarang tidak ada seorangpun yang tahu, tentang siapa nama asli beliau. Tetapi bila kita pelajari, bahwa lebai adalah merupakan nama jabatan perangkat desa Modin atau Kaur Kesra. Bahkan sampai sekarang masyarakat masih terbiasa menyebut nama seorang perangkat desa, dengan panggilan jabatannya (misalkan pak Lurah, pak Modin, pak Carik). Hal seperti itu yang menyebabkan nama aslinya pudar, dan berubah menjadi nama jabatannya. Demikian juga beliau, yang kemungkinan juga perangkat desa dengan jabatan lebai (Modin/Kaur Kesra). Karena warga sering memanggil beliau dengan jabatannya, sehingga nama asli beliau pudar dan ganti dengan nama ”Mbah Lebai”.